Kamis, 20 Januari 2011

pendudukan jepang di Indodesia


PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG

            Serangan bermula ketika Jepang berinat menguasai Asia Tenggara setelh meledakkan pelabuhan laut Pearl Harbour pada tanggal 07 Desember 1941. Invasi Jepang ke Asia Tenggara mula-mula ditujukkan ke Hongkong. Walaupun Inggris mengadakan perlawanan, tetapi tidak berlangsung lama. Pada tanggal 25 Desember 1941, Hongkong resmi diduduki oleh Jepang. Penyerbuan selanjutnya ditujukkan terhadap Malaysia yang merupakan pusat pertahanan Inggris yang vital. Inggris mempertahankan Malaysia secara mati-matian, tetapi akhirnya berhasil dilumpuhkan pada bulan Februari 1942. serangan berikutnya dilancarkan ke Jepang ke wilayah Birma. Akhirnya Jepang berhasil menguasai Birma pada bulan Mei 1942. Daerah yang menjadi serangan berikutnya adalah Filipina. Tentara Jepang yang dipimpin oleh Jendral Masaharu Homma mendapat perlawanan yang hebat dari tentara Amerika Serikat dibawah komandan Jendral Douglas Mac Arthur. Namun, lambat laun pertempuran pun tidak seimbang, maka Presiden Rooselvelt memerintahkan Mac Arthur mengundurkan diri ke Australia.

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Mengetahui mengapa Jepang ingin menguasai wilayah Indonesia.
2.      Bagaimana proses Jepang menguasai wilayah Indonesia.
3.      Apa kebijakan – kebijakan baru Jepang untuk Indonesia.
4.      Bagaimana dampak pada rakyat Indonesia saat pendudukan Jepang di wilayah Indonesia.
5.      Bagaimana akhir pendudukan Jepang di Indonesia.




C.     TUJUAN

1.      Untuk mengetahui mengapa Jepang menduduki Indonesia.
2.      Mengetahui proses dan kebijakan - kebijakan Jepang untuk Indonesia pada masa pendudukannya.
3.      Mengetahui dampak pendudukan Jepang untk rakyat Indonesia pada saat itu.
4.      Mengetahui akhir pendudukan Jepang sampai Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan.






















PENDUDUKAN JEPANG
DI INDONESIA

A.           Awal Mula Pendudukan Jepang
         Pada 7 Desember 1941, pesawat Jepang dikomandoi oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo melaksanakan serangan udara kejutan terhadap Pearl Harbor, pangkalan angkatan laut AS terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang menghadapi perlawanan kecil dan menghancurkan pelabuhan tersebut. AS dengan segera mengumumkan perang terhadap Jepang.
         Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara AS di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina dan koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Borneo dan Birma dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan daerah yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Markas Britania Raya di Singapura juga dikuasai, yang dianggap oleh Churchill sebagai salah satu kekalahan dan sejarah yang paling memalukan bagi Britania.
         Sejak saat itu Jepang terus menginvasi wilayah – wilayah jajahan Eropa di Asia Tenggara dan terus melakukan pertempuran – pertempuran dengan sekutu.
B.           Serangan Terhadap Asia Tenggara
         Terjadinya perang pasifik sangat berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia. Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Hindia-Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera sebagai sumber minyak utama.
         Guna mengantisipasi serangan Jepang, negara-negara sekutu di Asia Tenggara setelah membentuk komando gabungan dengan nama Abdacom (American, British, Dutch, Australian Command). Komandan tertingginya dijabat oleh Marsekal Sir Archibald Wavell (Inggris), komandan angkatan laut adalah Laksamana Thomas C. Harth (Amerika), komandan angkatan darat adalah Letnan Jendral Hein Ter Poorten (Belanda), dan komandan angkatan udara adalahMarsekal Richard E,C. Pierce (Australia).
Markas besar Abdacom berada di Lembang (Jawa Barat), sedangkan markas besar Angkatan Lautnya di Surabaya. Untuk pertahanan di laut, sekutu membagi daerah perairan Asia Tenggara atas tiga bagian. Wilayah barat, dimulai dari Laut Cina Selatan, Laut Hindia, dan Singapura, merupakan tanggung jawab Inggris. Wilayah perairan Makasar terus ke timur menjadi tanggung jawab Amerika dan Australia, sedangkan Laut Jawa menjadi tanggung jawab Belanda.
Akan tetapi Abdacom memiliki sejumlah kelemahan, yaitu:
Ø      Jumlah tentaranya tidak memadai dibandingkan dengan jumlah tentara Jepang.
Ø      Mereka tidak pernah mengdakan latihan bersama. Sistem perang maupun sistem komandonya masing-masing berbeda. Sebaliknya, pihak Jepang memiliki tentara dalam jumlah besar. Mereka dibawah satu komando terlatih dan memiliki semangat bushido yang tinggi.
         Dalam serangannya terhadap Sekutu di Laut Cina Selatan, kapal Inggris Prince of Wales dan Repulse berhasil ditenggelamkan oleh 50 pembom berani mati Jepang. Dan akhirnya setelah peristiwa itu Abdacom berantakan, komandan tertinggi yaitu Sir Archibald Wavell akhirnya terpaksa meninggalkan Indonesia karena sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan meningkir ke India untuk mempertahankan India.
C.           Masuknya Jepang Ke Indonesia

         Jepang memperkenalkan diri dengan rakyat Indonesia sebagai saudara tua, dan menyebut dirinya sebagai Cahaya Asia. Dan menjanjikan kemerdekaan pada awal kependudukannya. Alasan Jepang menduduki wilayah Asia dan Indonesia karena adanya Restorasi Meiji Jepang yang mengubah cara pandang pemerintahan jepang, yaitu dengan mengacu pada program pembaharuan pemerintahan agar menjadi Negara Industri. Untuk menjadi Negara Industri yang perkembangannya pesat epang berkmaksud untuk menguasai wilayah Asia dan memajukan industrinya. Selain itu, Jepang juga anti terhadap imperialism barat, sehingga bermaksud menguasai wilayah – wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh bangsa barat. Dengan menguasai wilayah Indonesia, maka Jepang akan mudah untuk mendapatkan bahan baku perang dan juga masyarakan Indonesia yang jumlahnya cukup besar dapat dijadikan kekuatan untuk menghadapi sekutu. 
         Awal mula pendudukan Jepang adalah mencoba menguasai wilayah Jawa. Dalam upaya merebut pulau Jawa, Jepang membentuk Operasi Gurita. Gurita Barat dimulai dari Indo-Cina melalui Kalimantan Utara dengan sasaran Pulau Jawa, sedangkan Gurita Timur dimuai dari Filipina melalui selat Makasar menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Operasi Gurita Barat tidak mengalami kesulitan mendarat di Eretan (Indramayu) dan Banten, sedangkan Gurita Timur harus menghadapi Sekutu dalam pertempuran laut dekat Balikpapan (Kalimantan Timur). Juga di Laut Jawa (The Battle of the Java Sea) terutama diperairan antara Bawean, Tuban, dan Laut Rembang berlangsung pertempuran selama 7 jam pada tanggal 27 Februari1942.
          Sampai akhirnya pada tanggal 9 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang dengan melakukan perjanjian Kalijati, bertempat di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Pada saat itu pihak Jepang di wakili oleh Letjen Hitoshi Imamura dan pihak Belanda diwakili oleh Letjen Ter Porten. 
         Pada masa pendudukan Jepang wilayah Indonesia dibagi menjadi dua bagian yaitu, Pulau Jawa dan Sumatra di bawah komando angkatan darat, yang berpusan di Jakarta dan Kalimanta, Sulawesi, dan Maluku yang berada dibawah komanda Angkatan laut dan berpusat di Ujung Pandang.
 
 
 
 
 
D.            Kebijakan – kebijakan Jepang
 
         Pada awal pendudukan Jepang di Indonesia, Jepang membentuk siatu organisasi dengan tujuan untuk menarik simpati rakyat Indonesia agar mau membantu memebela Jepang dalam perang melawan sekutu. Yaitu gerakan 3A, organisasi yang mula-mula dibentuk dengan semboyan: Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia. Jepang mampu sebagai Cahaya (penerang), Pemimpin, dan Pelindung bagi negara-negara Asia lainnya. Dan ternyata Gerakan Tiga A tidak bertahan lama karena tidak mendapat simpati rakyat.
         Setelah gerakan 3A gagal Untuk menarik simpati rakyat, pemerintah militer Jepang menawarkn kerja sama dengan para pemimpin indonesia. Oleh karenanya, tokoh-tokoh pergerakan Nasional, seperti Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, dan Sultan Syahir dibebaskan. Para pemimpin bangsa Indonesia itu bersedia bekerja sama dengan pemerintah militer Jepang. Dengan adanya persetujuan kerja sama, dibentuklah organisasi baru bernama Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Organisasi ini dipimpin oleh empat serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, K.H. Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara.
   Pusat tenaga Rakyat yang dibentu pada 16 April 1945. organisasi ini disusun sengan pimpinan pusatnya di Jakarta. Organisasi-organisasi profesi yang menjadi anggota Putera, antara lain: Persatuan Guru Indonesia, Perkumpulan Pegawai Pos, Telegraf, dan Radio, Isteri Indonesia, Barisan Banteng, Badan Perantara Pelajar-pelajar Indonesia, dan Ikatan Sport Indonesia.
   Dengan alasan Potera lebih menguntungkan Indonesia, Pemerintah militer Jepang membentuk Organisasi baru, yaitu Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa). Alasan pembentukan Jawa Hokokai adalah agar Indonesia dihimpun tenaganya lahir dan batin untuk digalang kebaktiannya sesuai dengan hokoseisyen (semangat kebaktian). Di dalam tradisi Jepang ada tiga dasar utama, yaitu rela mengorbankan diri, mempertebal persahabatan, dan mengerjakan sesuatu harus menghasilkan bukti. Pimpinan organisasi ini berada ditangan Gunseikan (kepala pemerintah militer) dan ditiap derah dipimpin oleh Syucokan(gubernur/residen).


   Jawa Hokokai terdiri dari berbagai macam hokokai profesi diantaranya Izi Hokokai (Himpunan Kebaktian Dokter), Kyoiku Hokokai (Himpunan Kebaktian Pndidik), Fujinkai (Organisasi Wanita), dan Ke imin Bunko Syidosyo (Pusat Budaya).
         
 
E.      Dampak Kepada Rakyat Indonesia
 
   Pada mulanya Jepang disambut baik oleh warga Indonesia karena dianggap penyelamat yang menghentikan penjajahan Belanda selama 14 keturunan kepada Indonesia. Setelah bermanis – manis Jepang memulai tindakan penguasaannya kepada Indonesia. Jepang mulai mengambil seluruh hasil bumi Indonesia tanpa bayaran dan diadakannya pengerahan untuk memenuhi segala kebutuhan tentara Jepang di Indonesia untuk kepentingan perang, Sehingga system ekonomi Indonesia sendiri menjadi rusak. Setelah itu Jepang membentuk system Autarki yaitu, rakyat di semua daerah harus memenuhi kebutuhannya sendiri. Sehingga banyak rakyat kekurangan pangan dan kebutuhan hidup. Industri di Indonesia mulai dihentikan, penjual penjual dilarang berdagang. Hal itu mengakibatkan banyak rakyat Indonesia yang memakai pakaian karung goni pada saat pendudukan Jepang.
   Dalam bidang pendidikan sendiri sangatb mengalami penurunan, dimana pada saat masa penjajahan Belanda sudah sulit untuk mengenyam pendidikan saat pendudukan Jepangpun lebih sulit untuk mengenyam pendidikan. Sekolahpun semakin berkurang. Bebrapa sekolah yang ada pada saat itu adalah :
1. Sekolah umum :
         a. SR lama belajar 6 Tahun 
         b. SMP lama belajar 3 Tahun 
         c. SMA lama belajar 3 Tahun 
2. Sekolah Guru :
         a. Sekolah guru 2 Tahun.
         b. Sekolah guru 4 Tahun 
         c. Sekolah guru 6  Tahun 
Dalam bidang budaya banyak perubahan yang terjadi. Pada saat itu, bahasa Indonesia masik aktif digunakan sebagai bahasa pengantar. Akan tetapi bahasa Belanda dilarang untuk digunakan dan juga film dengan bahasa Belandapun dilarang beredar. Mulai muncul Koran – Koran berbahasa Jepang dan Indonesia. Yang paling berbeda adalah Diberlakukan tradisi Seikeirei yaitu membungkukkan badan kearah matahari terbit sebagai wujud penghormatan Kaisar Jepang dan Dewa Matahari.
Dalam bidang pemerintahanpun banyak terjdi perubahan birokrasinya, dibentuknya undang – undang baru yang memihak pada Jepang adalah sebagai berikut :
q     UU No.27 Tentang aturan pemerintah    daerah.
q     UU No.28 Tentang aturan pemerintah  Syu ( Karesidenan ).
q   Pembagian daerah menjadi 3  Pemerintahan militer.
Organisasi politik dilarang kecuali MIAI ( Majelis Islam Ala Indonesia ) karena sebagian besar bangsa Indonesia beragama islam. Akan tetapi pada bulan Oktober 1943 MIAI diubah menjadi Masyumi.
Dibidang militer bangsa Indonesia dapat dibilang memperoleh keuntungan. Karena diberikan pendidikan militer oleh Jepang yaitu Sishin (semangat juang ) dan bushido ( ksatria berani mati). Hal tersebutlah yang dijadikan oleh Indoneisa sebagai senjata untuk melawan Jepang kembali.
Didirikan organisasi militer PETA ( Pembela Tanah air ) dalam kesatuan ini dikenal Pangkat :
ü      Daidanco  = Komandan batalyon.
ü      Cudanco   = Komandan Kompi.
ü      Shodanco = Komandan Pleton.
ü      Budanco   = Komandan regu.
ü      Giguyun    = Prajurit Sukarela.
 
F.      Perlawanan Indonesia
 
     Memasuki awal tahun 1943 Jepang mulai melemah. Mereka mengalami kekalahan beruntun di berbagi front pertempuran. Pada tanggal 8 Januari 1943, Perdana Menteri Tojo mengumumkan secara resmi bahwa Filipina dan Birma akan memperoleh kemerdekaannya pada tahun itu juga, sedangkan mengenai Indonesia tidak disinggung sama sekali. Pernyataan itu dapat menyinggung perasaan kaum nasionalis dan rakyat Indonesia umumnya. Oleh karena itu, Perdana Menteri Tojo menganggap perlu mengirim Menteri Urusan Asia Timur Raya, Aoki, ke Jakarta awal bulan Mei 1943. Aoki adalah Menteri Jepang pertama kali yang ada di Indonesia.   
            Akhirnya terjadi pemberontakan di Singaparma pada tahun 1943. Perlawanan fisik ini terjadi di pesantren Sukamanah Jawa Barat (Singaparna) di bawah pimpinan KH. Zainal Mustafa. Beliau menolak dengan tegas ajaran yang berbau Jepang, khususnya kewajiban untuk melakukan Seikerei setiap pagi, yaitu memberi penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit. Kewajiban Seikerei ini jelas menyinggung perasaan umat Islam Indonesia karena termasuk perbuatan syirik/menyekutukan Tuhan. Selain itu beliaupun tidak tahan melihat penderitaan rakyat akibat tanam paksa.
Saat utusan Jepang akan menangkap, KH. Zainal Mustafa telah mempersiapkan para santrinya yang telah dibekali ilmu beladiri untuk mengepung dan mengeroyok tentara Jepang, yang akhirnya mundur ke Tasikmalaya.
Jepang memutuskan untuk menggunakan kekerasan sebagai upaya untuk mengakhiri pembangkangan ulama tersebut. Pada tanggal 25 Februari 1944, terjadilah pertempuran sengit antara rakyat dengan pasukan Jepang setelah salat Jumat. Meskipun berbagai upaya perlawanan telah dilakukan, namun KH. Zainal Mustafa berhasil juga ditangkap dan dibawa ke Tasikmalaya kemudian dibawah ke Jakarta untuk menerima hukuman mati dan dimakamkan di Ancol.
Peristiwa Indramayu terjadi bulan April 1944 disebabkan adanya pemaksaan kewajiban menyetorkan sebagian hasil padi dan pelaksanaan kerja rodi/kerja paksa/Romusha yang telah mengakibatkan penderitaan rakyat yang berkepanjangan.
Pemberontakan ini dipimpin oleh Haji Madriyan dan kawan-kawan di desa Karang Ampel, Sindang Kabupaten Indramayu.
Pasukan Jepang sengaja bertindak kejam terhadap rakyat di kedua wilayah (Lohbener dan Sindang) agar daerah lain tidak ikut memberontak setelah mengetahi kekejaman yang dilakukan pada setiap pemberontakan.
Pemberontakan paling besar terjadi pada tahun 1945, yaitu pemberontakan PETA yang berhasil mendorong Jepang. Terjadi beberapa pemberontakan PETA antara lain sebagai berikut :
  • Perlawanan PETA di Blitar (29 Februari 1945)
Perlawanan ini dipimpin oleh Syodanco Supriyadi, Syodanco Muradi, dan Dr. Ismail. Perlawanan ini disebabkan karena persoalan pengumpulan padi, Romusha maupun Heiho yang dilakukan secara paksa dan di luar batas perikemanusiaan. Sebagai putera rakyat para pejuang tidak tega melihat penderitaan rakyat. Di samping itu sikap para pelatih militer Jepang yang angkuh dan merendahkan prajurit-prajurit Indonesia. Perlawanan PETA di Blitar merupakan perlawanan yang terbesar di Jawa. Tetapi dengan tipu muslihat Jepang melalui Kolonel Katagiri (Komandan pasukan Jepang), pasukan PETA berhasil ditipu dengan pura-pura diajak berunding. Empat perwira PETA dihukum mati dan tiga lainnya disiksa sampai mati. Sedangkan Syodanco Supriyadi berhasil meloloskan diri.
  • Perlawanan PETA di Meureudu, Aceh (November 1944)
Perlawanan ini dipimpin oleh Perwira Gyugun T. Hamid. Latar belakang perlawanan ini karena sikap Jepang yang angkuh dan kejam terhadap rakyat pada umumnya dan prajurit Indonesia pada khususnya.
  • Perlawanan PETA di Gumilir, Cilacap (April 1945)
Perlawanan ini dipimpin oleh pemimpin regu (Bundanco) Kusaeri bersama rekan-rekannya. Perlawanan yang direncanakan dimulai tanggal 21 April 1945 diketahui Jepang sehingga Kusaeri ditangkap pada tanggal 25 April 1945. Kusaeri divonis hukuman mati tetapi tidak terlaksana karena Jepang terdesak oleh Sekutu.        
      
G.     Kemerdekaan Indonesia
Pada 6 Agustus 1945, 2 bom atom dijatuhkan ke dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat. Ini menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya. 7 Agustus - BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang menuju kehancuran tetapi Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus.
Sementara itu, di Indonesia, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio pada tanggal 10 Agustus 1945, bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air pada tanggal 14 Agustus 1945, Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap.
15 Agustus - Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda.
Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 mereka menculik Soekarno dan Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta, bertemu dengan Jenderal Moichiro Yamamoto dan bermalam di kediaman Laksamana Muda Maeda Tadashi. Dari komunikasi antara Hatta dan tangan kanan komandan Jepang di Jawa ini, Soekarno dan Hatta menjadi yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, dan tidak memiliki wewenang lagi untuk memberikan kemerdekaan.
Mengetahui bahwa proklamasi tanpa pertumbahan darah telah tidak mungkin lagi, Soekarno, Hatta dan anggota PPKI lainnya malam itu juga rapat dan menyiapkan teks Proklamasi yang kemudian dibacakan pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945.
Tentara Pembela Tanah Air, kelompok muda radikal, dan rakyat Jakarta mengorganisasi pertahanan di kediaman Soekarno. Selebaran kemudian dibagi-bagikan berisi tentang pengumuman proklamasi kemerdekaan. Adam Malik juga mengirim pesan singkat pengumuman Proklamasi ke luar negeri.





PENUTUP

            Demikian tugas Nihonshi pengganti Ujian Akhir Semester dengan pembuatan makalah mengenai PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA telah saya buat dengan sebaik – baiknya. Makalah ini kami ambil dari sumber yang berbeda – beda sehingga kami mendapat cukup materi untuk menjadikannya sebagai salah satu behan referensi mengenai sejarah – sejarah baik Jepang maupun Indonesia.

            Kami berharap, makalah ini dapat berguna bagi para pembaca sekalian. Sehingga dapat menambah pengetahuan mengenai sejarah kependudukan Jepang di Indonesia yang walau hanya 3,5 tahun tapi sangat membekas di hati para kakek nenek kita yang mengalaminya.

            Kami sangat menyadari makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Maka kritik dan saran yang membangun sangat kami perlukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar